Monday, December 12, 2011

Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali lebih dikenal sebagai ulama tasawuf dan akidah. Karena itu kontribusinya terhadap bidang filsafat dan ilmu pengetahuan lain tidak bisa dinafikan. Al-Ghazali merupakan seorang ahli sufi yang bergelar "hujjatui Islam".

Abu Hamid Ibnu Muhammad al-Tusi al-Ghazali itulah tokoh yang dilahirkan di Tus, Pars! pada tahun 450 Hijrah. Sejak kecil lagi, beliau telah menunjukkan kemampuan yang luar biasa dengan menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan.
Ia bukan saja produktif dari segi menghasilkan buku dan karya tetapi merupakan seorang ahli pikir Islam yang terulung.Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan begitu mendalam sehingga mendorongnya menggembara dan merantau dari sebuah tempat ke tempat yang lain untuk berguru dengan ulama-ulama yang hidup pada zamannya.

Sewaktu berada di Baghdad, Al-Ghazali telah ditunjuk sebagai Mahaguru Universitas Baghdad.Walaupun telah bergelar mahaguru tetapi ia masih merasakan kekurangan pada ilmu pengetahuan yang dimiliki. Karena itu, ia meninggalkan jabatannya dan beralih ke bidang tasawuf dengan merantau ke Makkah sambil berguru dengan anggota-anggota sufi yang terkenal disana

Selain belajar dan mempelajari,. Al-Ghazali juga banyak menulis.Diperkirakan ia telah menulis 300 buah buku mencakup berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti mantik, akhlak, tafsir, ulumul Quran, filsafat, dan sebagainya.


 
Namun, sebagian besar hasil tulisannya telah hangus dibbakar oleh tentara Moghul yan menyerang kota Baghdad.Antara kitab yang musnah termasuk: 40 Jilid Tafsir, Sirrul Alamain (Rahasia Dua Dunia), dan al Madhnuuna bihi ala Qhairiha (Ilmu Yang Harus Disembunyikan Dari Orang ' orang Yang Bukan Ahlinya,).
Cuma 84 buah buku tulisan beliau yang bisa diselamatkan seperti Al Munqiz Mm al Dhalal (Penyelamat Kesesatan), Tahafut al Filsafat (Penghancuran Filsafat), Mizanul Amal (Timbangan Amal), Ihya Ulumuddin (penghidupan Pengetahuan), Mahkun Nazar fMengenai Ilmu Logika), Miyarul ilmu, dan Maqsadil Filsafat (Tujuan Filsafat).
Meskipun Al-Ghazali banyak menulis tentang filsafat tetapi ia tidak dianggap sebagai seorang filsuf. Malah kebanyakan penulis menggolongkan Al-Ghazali sebagai seorang yang memerangi dan bersikap antifalsafah. Pandangan ini berdasarkan tulisan Al-Ghazali dalam buku Tahafut Falsafah yang banyak mengkritik dan mengecam filsafat. Bahkan dalam buku tersebut, Al-Ghazali menyatakan tujuan menyusun buku itu adalah untuk menghancurkan filsafat dan menggugat keyakinan orang terhadap filsafat. Namun, pandangan bahwa Al-Ghazali seorang yang antifalsafah tidak disetujui oleh beberapa orang sarjana.Biarpun tidak ada seorang pun yang bisa menafikan kecaman Al-Ghazali terhadap filsafat seperti yang ditulis dalam buku Tahafut Falsafah itu tetapi perlu diingat-kan bahwa sikap skeptis (ragu ) dan kritikannya terhadap filsafat merupakan sebagian proses ilmu filsafat itu sendiri.

 
Hal ini karena tugas filsuf bukan semata-mata untuk mencari kebenaran dan solusi terhadap sesuatu masalah tetapi juga menantang dan membantah solusi yang dikemukakan terhadap permasalahan tersebut.Kalau menelusuri perjalanan hidup Al-Ghazali maka akan ditemukan bahwa ia merupakan ilmuwan Islam pertama yang mendalami filsafat dan kemudian mengambil sikap mengkritiknya.

 
Meskipun Al-Ghazali kurang senang dengan filsafat dan ahli filsafat tetapi dalam buku Maqasid al Falasifah., Ia mengemukakan metode filsafat untuk menguraikan persoalan yang terkait dengan logika, ketuhanan, dan fisik. Menurut Al-Ghazali, filsafat dibagi menjadi enam ilmu pengetahuan adalah matematika, logika, fisika, metafisika, politik, dan etika.

Bidang-bidang ini terkadang sejalan dengan, agama dan terkadang pula sangat berlawanan dengan agama. Namun, agama Islam tidak menghalangi umatnya dari mempelajari ilmu pengetahuan tersebut jika mendatangkan kebaikan dan tidak menimbulkan kemudaratannya.

 
Misalnya agama tidak melarang ilmu matematika karena ilmu itu merupakan hasil pembuktian pikiran yang tidak bisa dipungkiri setelah ia dipahami.Ada tiga pemikiran filsafat metafisik yang menurut Al-Ghazali sangat bertentangan dengan Islam yaitu qadimnya alam ini, tidak mengetahui Tuhan terhadap hal dan peristiwa yang kecil, dan pengingkaran terhadap kebangkitan jasad atau jasmani.
Al-Ghazali tidak menolak penggunaan akal dalam pembicaraan filsafat dan penghasilan ilmu pengetahuan yang lain. Sebaliknya ia berpenghasilan bahwa ilmu kalam dan penelitian menggunakan pikiran dapat menambahkan keyakinan dan menyalakan apt keimanan pada hati orang bukan Islam terhadap kebenaran ajaran Islam.

 
Jadi, perkembangan sesuatu ilmu pengetahuan bukan saja mengandalkan kepuasan akal pikiran tetapi juga perlu mempertimbangkan aspek perasaan dan hati nurani. Al-Ghazali menganjurkan agar umat Islam mencari kebenaran dengan menjadikan al-Qur'an sebagai sumber yang utama bukan melalui proses pemikiran dan akal semata-mata.
Jadi, apa yang mencoba dilakukan oleh Al-Ghazali adalah menampilkan kesalahan dan kepalsuan bidang pengetahuan yang bertentangan dengan agama dan bertentangan dengan pendirian umat Islam. Sekaligus menunjukkan bahwa Al-Ghazali sebenarnya merupakan seorang anggota falssafah Islam yang mencari kebenaran dengan berpegang al-Quran dan hadis tidak sebagaimana pemikiran dan permainan logika yang lazim digunakan filsuf Yunani. Hal yang ditentang oleh Al-Ghazali bukan filsuf dan pemikiran yang dibawakan oleh mereka tetapi kesalahan, kesalahan, dan kesesatan yang dilakukan oleh kaum tersebut. Pada Al-Ghazali, tunjang pada pemikiran filsafat adalah Al-Quran itu sendiri.

No comments:

Post a Comment