Sunday, November 13, 2011

Jumlah Jamaah Indonesia yang Wafat selama perjalanan Haji Bertambah 257 Orang. Makkah Berangsur Normal

Jumlah Jamaah Indonesia yang Wafat selama perjalanan Haji Bertambah 257 Orang. Makkah Berangsur Normal


 Kekhawatiran mengenai banyaknya jamaah haji yang meninggal sepekan usai masa puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armina) terbukti.Data Siskohat yang dirilis pada Senin (14/11) pukul 09.00 Waktu Arab Saudi  (WAS) menunjukan bahwa sepanjang hari Ahad (13/11) jumlah jamaah yang wafat sudah  257 orang.

Jumlah jamaah haji yang wafat itu melonjak cepat bila dibandingkan data sehari sebelumnya yang hanya mencapai 212 jamaah. Bahkan, pada masa awal kedatangan hingga menjelang pelaksanaan wukif di Arafah,  jamaah yang wafat rata-rata hanya 2-3 orang saja per hari.

‘’Ya kini adalah hari-hari puncak jumlah jamaah yang wafat. Beberapa hari kedepan jumlahnya akan menurun. Ini kecenderungan yang terjadi setiap tahun. Grafiknya selalu begitu, ‘’ kata Staf Senior Pusat Kesehatan Haji Departemen Kesehatanm Abdul Hafidz, di Makkah, Senin (14/11).

Menurut dia, banyaknya jumlah jamaah yang meninggal pasca pelaksanaan mengikuti prosesi puncak haji di kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armina) ini lebih banyak karena dipicu faktor kelelahan fisik. Penyakit yang tadinya sudah ada semakin parah. Bahkan yang sehat pun seusai puncak haji pun ikut sakit. ‘’Tahun kemarin pada hari yang sama jumlahnya juga tak berbeda, yakni mencapai 47 orang wafat dalam satu hari,’’ kata Hafidz.

Data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) pukul 08:53 WAS, mencatat posisi terakhir jamaah wafat saat itu mencapai 257 orang. Jamaah haji reguler wafat 245 orang dan jamaah haji plus wafat 12 orang. Dalam data itu  menunjukkan, jamaah wafat terbanyak berasal dari embarkasi Surabaya 53 orang, disusul embarkasi Solo 46 orang, embarkasi Bekasi 33 orang, embarkasi Jakarta 29 orang, serta embarkasi Makassar 18 orang. Yang wafat kebanyakan jamaah yang berusia lanjut, 60 tahun ke atas.

Lonjakah jumlah jamaah haji yang meninggal terasa bila melihat jumlah jamaah yang wafat hingga Sabtu (12/11) pukul 16.18 waktu Arab Saudi (WAS). Saat itu jumlahnya masih mencapai 212 orang, dengan rincian 204 orang haji reguler dan delapan orang haji khusus.

Namun, pada saat itu posisi asal jamaah yang wafat tetap belum berubah. Jamaah wafat terbanyak berasal dari embarkasi Surabaya 44 orang, disusul embarkasi Solo 38 orang, embarkasi Bekasi 29 orang, embarkasi Jakarta 23 orang, serta embarkasi Makassar 17 orang.
 
Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kementerian Agama Slamet Riyanto, mengatakan jamaah wafat tahun ini memang banyak yang berusia 60 tahu ke atas dan masuk dalam golongan resiko tinggi (Risti). "Memang usia 60 tahun ke atas banyak yang wafat dalam pelaksanaan haji karena memang faktor usia dan kelelahan," katanya.

Jamaah haji gelombang II yang datang mendekati masa puncak haji, secara berangsur-angsur mulai Ahad lalu berpindah ke Makkah. Mereka rencananya akan berada di sana selama 8-9 untuk melaksanakan ibadah shalat Arbaiand i Masjid Nabawi.

Mewaspadai masih banyaknya jamaah yang kelelahan pasca melakukan Armina, Koordinator Media Centre Haji MAdinah Zainuddin Daulay mengatakan petugas PPIH Daker Madinah memang mewaspadai ancaman kesehatan bagi jamaah.  Pasalnya, secara umum kondisi jamaah menurun pasca puncak haji di Mekkah dan Armina.

“Kami menghimbau mereka bisa mengontrol kondisi tubuh, jangan sampai jemaah jatuh sakit karena memaksakan diri melakukan ibadah selama di Madinah ini," ujar Daulay.

Selain itu, dia menghimbau agar tim pengawas katering diminta lebih meningkatkan kerja mereka. Ini, katanya, agar kasus-kasus jemaah mengalami gangguan kesehatan akibat katering tidak terjadi lagi. “Kami berharap agar tidak ada kasus diare yang disebabkan karena persoalan catering,” katanya. N muhammad subarkah

Makkah Berangsur Normal

 Suasana kota Makkah yang selama sepekan terakhir penuh sesak kini kembali normal. Jalanan pun menjadi lengang. Tak ada lagi pembatasan jalan atau pengalihan lalu lintas. Jamaah haji tak lagi banyak hilir mudik jalanan kaki menyesaki kota.

‘’Sudah normal sekarang. Makin hari makin kosong. Jumat depan toko kami pasti akan sepi pengunjung,’’ kata Abdullah, pedagang pakaian di supermarket yang ada di kawasan Azizyah, Makkah, Sabtu (12/11).

Abdullah mengakui kota Makkah sebenarnya adalah sebuah kota yang kecil. Kalau naik mobil mengitarinya hanya butuh waktu sekitar satu jam saja.’’Makkah beda dengan Jakarta atau Kuala Lumpur yang luas dan besar. Di sini hanya ramai dua kali saja dalam satu tahun, yakni sewaktu Ramadhan dan bulan haji saja,’’ ujarnya.

Hingga Ahad pagi, pengunjung Masjidil Haram memang sudah tampak berkurang. Kondisi sesak di sekitar tempat tawaf dan Sa’i kini melonggar. Jamaah haji  yang masih tinggal di Makkah kini lebih leluasa bila melakukan shalat atau sekedar duduk untuk berzikir.

Kondisi normal juga kini sudah terlihat di kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armina) yang dalam beberapa hari lalu menjadi ajang puncak prosesi ibadah haji. Kawasan itu benar-benar telah kosong. Lebih dari lima juta orang yang kemarin menyesakinya sama sekali tak terlihat. Bahkan, tebaran dan tumpukan sampah yang beberapa waktu sempat terlihat kini sudah menghilang.

Di kawasan Mina misalnya, tebaran sampah juga tak terlihat. Para petugas kebersihan yang berasal dari berbagai negara seperi Pakistan, Bangladesh, Yaman, Mesir, dan Nigeria masih sibuk melakukan penyisiran terakhir atas sampah yang masih tersisa. Berbagai truk  dan alat berat pengeruh sampah terlihat masih terpakir di tempat itu.

Gedung jamarat yang megah berlantai lima juga kosong melompong. Di dalam gedung sudah tak ada lagi sampah atau kerikil sisa jamarat yang betebaran. Sabtu pagi kemarin (12/11),  terlihat beberapa sisa jamaah haji asal Turki dan Pakistan yang kembali mengunjunginya. Mereka kini kembali mencoba melempar batu ke jamarat sembari berfoto ria.’’Senin depan kami akan kembali,’’ kata Karim, jamaah haji asal Turki.

Wali Kota Makkah, Osama Al-Bar, menyatakan operasi pembersihan kawasan Arafah hingga Mina memang telah dilakukan. “Operasi  pembersihan dimulai segera setelah peziarah menyelesaikan rangkaian ibadahnya,” kata Walikota Mekkah, Osama Al-Bar, seperti yang dikutip dari Arab News, kemarin.

Al-Bar menjelaskan pihaknya mengerahkan tak kurang dari 20.500 pekerja untuk melakukan operasi pembersihan tempat-tempat suci tersebut. Mereka terbagi dalam unit-unit layanan di 25 titik yang meliputi Kawasan Mina, Muzdalifah, dan Arafah. “Pembagian ini agar koordinasi bisa mudah dilakukan, sehingga operasi pembersihan bisa cepat dilakukan,” jelasnya.

Lebih lanjut dia mengungkapkan puluhan ribu pekerja itu dilengkapi dengan ratusan truk sampah yang menyisir ke titik bekas keramaian selama proses puncak haji. 100 pekerja dengan armada 10 truk sampah juga disiagakan sepanjang waktu, jika terjadi situasi darurat.

Di Makkah saja, sekitar 7.000 pekerja telah membersihkan kota sejak 27 Oktober. Sekitar 670 truk sampah dan mesin lainnya dikerahkan untuk membersihkan jalanan.

No comments:

Post a Comment